Dari Balik Hujan

Abdul Manan
1 min readNov 2, 2024

--

Put…

Hujan — mungkin saja — adalah pertanda langit yang tak lagi mampu menampung gumpalan awan, yang tak lagi kuat menumpu kerasan dalam jarak dan kejauhan

Dari kaca jendela, aku menjumpai hujan yang merintik dan berbaris acak di balik sisi yang satunya. Aku menuliskan guratan demi guratan dengan telunjukku, membentuk garis-garis acak yang rapuh dan timbul tenggelam. Rinai hujan membawaku pada masa silam, sewaktu kecil, takut petir, dan lari-lari telanjang. Lekuk jemariku bergerak ke berbagai arah: lengkung, lingkar, lurus. Entah membentuk apa, tapi rinai yang meyusup ke celah-celah itu begitu lembut nan halus.

Aku iseng menulis pada kaca yang lembab seperti sebongkah kanvas dengan medium kaca, jemariku sebagai kuas, dan titis air hujan sebagai catnya. Kadang, belaian telunjukku tak mengguratkan apa-apa, kadang juga tak membentuk gambar atau tulisan apa-apa. Dan malam ini aku ingin melukiskan namamu di sana.

Cobalah mendekat ke jendela. Kita dipisah 238 kilometer jauhnya. Ada basah dan becek. Mengendap dan meluap. Pohon-pohon tersenyum karena dipertemukan dengan kekasihnya. Mereka berpeluk ria — mungkin semalaman atau seterusnya, entah dengan perlahan atau begitu derasnya. Bayangkan, apa yang akan diucapkan pohon kepada hujan dan hujan kepada pohon yang kembali berjumpa itu?

Langit samar-samar mengintip mereka dan harap-harap cemas agar tak dipergoki sepasang kekasih itu, yang barangkali sedang bercumbu dalam kekhidmatan paling paripurna.

Tegal, 2 November 2024

--

--

Abdul Manan
Abdul Manan

No responses yet