Dari Gula Pasir ke Gula Aren

Abdul Manan
3 min readOct 13, 2024

--

Aku memiliki kebiasaan baru dalam menyajikan kopi. Gula pasir kuganti dengan gula aren. Ini bukan persoalan mengganti rasa. Tetapi ihwal menambahkan gula di setiap seduhannya. Biasanya, orang menyajikan kopi bubuk dengan gula pasir. Tapi, aku menggantinya dengan gula aren. Tak ada lagi kopi bungkus yang cuma panaskan air lalu tinggal seduh. Tidak sesimpel itu. Meracik paduan kopi bubuk dan gula aren memang perlu banyak mencoba. Termasuk apalagi kalau ditambah krimer. Tentu dengan takaran yang pas.

Kopi yang digunakan pun bukan sembarang kopi bubuk. Dari beberapa kopi yang kugunakan, harganya tidak terlalu mahal. Ya, mungkin terkait kopi bubuk apa yang cocok tergantung selera. Hanya saja, gula aren sendiri itu tidak permah mengecewakan. Aromanya saja lebih sedap dari gula pasir.

Aku mendapat pengalaman ini dari seorang rekan kerja. Katanya gula aren lebih menyehatkan daripada gula pasir. Kandungan mineralnya lebih banyak, seperti tinggi kalsium, fosfor, dan vitamin B2. Pada mulanya, aku mencoba sendiri dengan kopi bubuk tertentu. Beberapa kali aku meminta kopi dan sekalian gulanya pada rekanku, hehe.

Rasanya memang enak. Ada semacam aroma sedikit gosong dalam uap-uap yang menyembul di atas permukaan secangkir kopi. Saat diseruput, sensasi manis tidak terlalu membuat enek pada lidah.

Mulai saat itu, aku mencoba kebiasaan yang sama. Aku pergi ke toko dan membeli kopi bubuk, sebungkus gula aren, tak lupa dengan creamer sebagai tambahannya. Kadang aku menggunakan krimer kadang tidak. Kebiasaan mengonsumsi kopi yang sudah diracik dalam satu bungkus saset memang mudah, tapi kadang rasanya terlalu manis, atau terlalu aneh.

Misalnya, ada satu jenis kopi yang rasanya seperti obat yang dilarutkan. Dan lebih kesalnya lagi adalah kopi yang sudah manis dalam satu saset malah ditambah gula. Apalagi kalau keadaan dingin, gulanya tidak luntur. Aduh, Mak. Itu manis sekali. Enek lidahku dibuatnya.

Entahlah, gula akhir-akhir ini memang banyak menjadi perhatian banyak orang. Berbagai banyak konten edukasi terkait gula betebaran di mana-mana. Yang menarik perhatianku adalah konten penjelasan kandungan gula dalam setiap produk keseharian yang biasa kita konsumsi, seperti minuman botol, kopi saset, minuman energi, es krim, susu kental, kecap, roti tawar, dan produk lainnya. Setidaknya, itu cukup membuatku penasaran dengan komposisi penyusun dadi suatu produk. Dan ternyata, dari banyaknya konten, kebanyakan produk minuman lebih banyak dibuat dengan bahan dasar air dan gula. Makanan seperti roti tawar yang menyebut dirinya terbuat dari gandum, lebih banyak dibuat dari tepung terigu dan gula. Bahkan, untuk makanan bayi yang menyebutnya sup ayam jagung, hanya mengandung ayam dan jagung tidak lebih dari dua persen. Sisanya adalah nasi dan gula.

Aku akhirnya mengerti, bagaimana orang-orang menjadi begitu hati-hati tehadap berbagai produk yang mereka konsumsi. Aku punya seorang teman yang selalu berbagi cerita tentang pengalamannya dalam memilih dan memilih produk yang ia beli di media sosial. Dia selalu melihat komposisi, menghitung jumlah kalori dalam suatu produk, dan membandingkannya dengan jumlah kalori yang ia butuhkan. Setelah itu, ia baru memutuskan untuk membeli produk itu atau tidak.

Pada awalnya, aku melihatnya begitu heran. Kok ada ya orang yang mau repot-repot menghitung kalori untuk setiap produk yang ia temui? Kita sama-sama diberi waktu 24 jam. Dan dia masih punya waktu untuk melakukan hal itu. Jujur saja, aku melihatnya sebagai aktivitas yang membuang-buang waktu.

Namun, aku belajar. Setelah melihat konten dengan penjelasan suatu minuman dengan botol kecil yang mengandung empat sendok gula, aku jadi prihatin. Aku mulai tertarik untuk melihat kembali dengan teliti produk-produk yang kubeli. Dan betapa mirisnya aku melihat banyaknya produk yang kandungan gulanya begitu "mengerikan". Pembodohan apa lagi ini?

Aku mendengar kalau terdapat kecenderungan anak-anak muda yang mulai mengalami diabetes. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia menyebutkan kalau kasus diabetes anak meningkat hingga 70 kali lipat dari tahun 2010 hingga 2023. Laporan International Diabetes Foundation, Indonesia berada di tingkat pertama dengan jumlah penderita diabetes terbanyak. Anak-anak dengan penderita diabetes paling banyak berada dalam rentang usia 10-14 tahun.

Tentu ini begitu mengkhawatirkan. Apakah generasi emas akan menjadi generasi diabetes? Itu yang dikatakan satu pembuat konten di platform Youtube.

Namun, itu juga bukan berarti kita berhenti untuk mengonsumsi apa yang kita suka. Aku tetap mengonsumsi apa yang aku suka. Aku suka es krim, roti, dan banyak produk lainnya. Kita memang tidak bisa begitu saja berhenti dari kebiasaan yang membunuh kita secara perlahan. Tapi, bukan berarti hal itu tidak bisa dilakukan. Itu perlu proses. Dan mengganti gula pasir dengan gula aren dalam setiap seduhan kopi adalah salah satu kemenangan kecil yang patut buat dihargai sebagai sebuah proses.

Tentu dengan takaran yang pas.

--

--

Abdul Manan
Abdul Manan

No responses yet