Gus Muh, Kliping, dan Sebuah Petikan Pembelajaran

Abdul Manan
5 min readFeb 11, 2024

--

Muhidin M. Dahlan atau akrab disapa Gus Muh belajar dari Pram kalau kerja pengklipingan adalah kerja politis. Anak sekolah mungkin mengingat kliping sebagai aktivitas gunting-gunting koran atau surat kabar. Tetapi, itu hanya pekerjaan teknisnya saja. Watak ideologis dari kliping—terutama oleh Gus Muh—digunakan untuk melawan lupa. Melawan lupa adalah satu bagian dari melawan kekuasaan. Karena kekuasaan cenderung korup, ia akan terus berupaya memberangus jejak kesewenangannya dan semua-mua yang berupaya untuk membukanya kepada khalayak. Kliping adalah upaya mendekonstruksi sejarah. Kliping adalah upaya untuk terus merawat ingatan.

Baru-baru ini, Gus Muh menerbitkan sebuah buku yang berisi kliping mengenai kronik penculikan aktivis dan kekerasan negara pada 1998. Buku ini merupakan kumpulan laporan yang disusun dengan lima pembabakan. Ada satu nama yang membuat saya tertarik: Prabowo Subianto. Prabowo adalah salah satu capres yang ikut dalam perhelatan pemilu 2024 yang berpasangan dengan Gibran. Publik tahu, bahwa proses pencalonan prabowo gibran sarat akan masalah. Namun, elektabilitasnya paling tinggi. Ketika orang-orang tertarik dengan gimmick joged gemoy prabowo, Gus Muh tampil untuk menyodorkan "sisi" lain melalui bukunya: Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998. Ada satu kalimat menarik di sampul buku itu: Prabowo Dipecat, Akui Culik 9 Aktivis.

Buku Kronik dan catatan baca. Rokok hanya sebagai pemanis. (Dok Pribadi)

Saya dan Dini—pacar saya—tertarik untuk membeli buku itu. Kami patungan dan kemudian membaca bergantian. Saya menyimpan buku itu terlebih dahulu. Saya dan Dini memang suka bercakap-cakap seputar perhelatan pilpres. Dia pendukung Anies tulen dan saya belum memutuskan untuk mendukung paslon manapun, bahkan cenderung golput. Dia acap kali menyakitkan saya bahwa Anies adalah yang paling mending di antara yang lain. Meskipun ia tidak mengatakannya secara langsung, cara dia meng influence saya cukup meyakinkan. Saya tidak heran. Dia anak ilmu komunikasi dan pastinya dia sudah belajar banyak bagaimana untuk meyakinkan seseorang agar setuju dengan pemikirannya. Hehe.

Oke, itu pembahasan lain. Anyway...

Halaman epilog adalah bagian pertama yang saya baca dari buku ini. Sajian penutup itu ditulis oleh Zen Rahmat Sugito, pemimpin Redaksi Narasi. Saya teringat dengan kutipan Milan Kundera yang Zen kutip di dalam esainya: perlawanan terhadap kekuasaan seperti perlawanan ingatan melawan lupa. Kalimat itu menjadi tumpuan dan barangkali jadi pesan yang ingin disampaikan Gus Muh lewat buku ini. Ketika hari ini kekuasaan semakin menunjukkan watak otoritarianismenya yang tercermin dalam proses pemilu, kita diingatkan untuk belajar dari sejarah.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengulas buku itu. Tetapi, saya belajar hal lain.

Begini ceritanya.

Pada Kamis, 7 Februari 2024, Aksi Kamisan Semarang menggelar diskusi dan bedah buku di Kedai Kang Putu. Mereka mengundang Gus Muh dan beberapa narasumber lain untuk berbicara. Saya tertarik untuk mengikuti diskusi tersebut. Saat Gus Muh tiba di Semarang, saya ingin berjumpa dan banyak mengobrol dengan beliau selain berdiskusi dalam cara yang diadakan teman-teman Aksi Kamisan Semarang. Dini berpesan untuk meminta tanda tangan dari Gus Muh pada buku kami. Iya "buku kami" karena kami membelinya bersama-sama.

Dini mengingatkan untuk tidak lupa meminta tanda tangan. (Dok Dini)

Malam itu saya pergi ke Kedai Kopi Kang Putu. Saya pesan teh tawar dingin dan nasi ayam lombok hijau. Saat itu, Gus Muh belum ke depan audiens untuk berbicara. Saya mendekat kepadanya dan bercakap-cakap sebentar. Dan tiba-tiba Gus Muh bertanya, "Nan, apa instagramku?" Saya kaget dan secara spontan menghapus semua cerita Instagram, termasuk yang aku unggah ulang dari cerita Instagramnya Dini. Namun, belakangan aku sadar. Itu salah. Salah besar. Dini tentu saja marah dan mungkin menangis, ditambah gawaiku yang kemudian mati dan aku perlu mengisi dayanya tanpa bisa sembari mengoperasikannya.

Ya sudah. Saya hanya memperhatikan narasumber berbicara. Saya mendengar cerita Gus Muh dari Munir, Prabowo, tentang kerja pengklipingan, dan seterusnya. Dua hal yang paling saya ingat. Pertama, kalimat penutup Gus Muh soal Prabowo, "Kalau 11 anak buah saya terbukti, sebagai kepala saya akan menanggung kesalahan mereka..." Sejenak Gus Muh diam lalu kembali berkata, "Pret!".

Kedua, kisah Munir dan Suciwati. Gus Muh bercerita: Sebagai seorang aktivis yang membela hak-hak kaum marjinal dan selalu dibenci kekuasaan, Munir sadar betul kalau segala yang didekatnya juga akan terancam dan dijadikan sebagai alat untuk memperdaya Muni, termasuk istrinya, Suciwati. Oleh karena itu, Munir berupaya sebaik mungkin untuk menjaganya, membuatnya merasa dekat dan tidak ia lepas segala aktivitas. Munir berupaya memuliakannya dengan berbagai rupa cara. Dia menjaga betul Suciwati. Dia tidak ingin kekuasaan memanfaatkan cintanya untuk kemudian membungkamnya. Munir selalu memperhatikan setiap detail dari istrinya dengan berbicara, membuatnya merasa nyaman, bahkan hingga menjelang kematiannya. Munir dan Suciwati selalu tahan dari segala godaan kekuasaan dan harta benda yang acap disodorkan kepada mereka. Satu-satunya yang bisa menghentikan Munir adalah kematian.

Diskusi buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 oleh Aksi Kamisan Semarang di Kedai Kang Putu (Dok Aksi Kamisan Semarang)

Belakangan, saya sadar bahwa dengan penjelasan itu Gus Muh tidak akan bersikap sinis terhadap ekspresi jatuh cinta, sesuatu yang acap saya temui dalam dunia aktivis, pergerakan, dan atau semacamnya, bahkan beberapa orang di lingkaran saya sendiri. Munir adalah contoh dan kerja pengklipingan yang berbicara.

Saya belajar bahwa lewat kerja pengklipingan, kita belajar untuk menghargai hal-hal kecil. Apa yang dilakukan Gus Muh adalah menghargai kerja-kerja jurnalis. Koran acap tidak masuk dalam kearsipan negara. Yang ada hanya catatan pemerintah. Tetapi, Gus Muh dan juga Pram menghargai koran. Ada rakyat di sana. Ada kisahnya, perasaannya, emosinya, sebuah peristiwa, dan bukan hanya catatan statistik dan kriminal semata. Koran bukan bungkus kacang. Koran adalah sejarah.

Dan tidak perlu jauh-jauh, Dini adalah orang yang sangat menghargai hal-hal kecil, seperti tangkapan layar percakapan, satu kata dua kata yang terucap, semua dia perhatikan. Dia tahu bagaimana cara menghargai hal-hal kecil. Dan dari situ aku belajar kepadanya. Seketika setelah mendapa tanda tangan dari Gus Muh, Dini segera mendokumentasikan itu dan membuat Whatsapp Story

Tangkapan layar Dini yang membuat Whatsapp Story (Dok Dini)

Pada titik ini, kliping dalam sudut pandang saya, selain kerja politis juga merupakan kerja-kerja yang sangat personal. Mendokumentasikan setiap momen adalah upaya menjaga keberlanjutan. Hal itu bisa menjadi bahan refleksi, bahan untuk koreksi, dan bahan yang darinya dapat kita pelajari.
Saya menyadari diri ini bukanlah orang yang terlalu aktif di media sosial. Alih-alih menjadi pembuat konten, mungkin saya berada dalam barisan para penyimak. Iya, saya sangat suka menyimak kisah orang-orang. Saya juga tak pandai memilih foto yang bagus dan susunannya. Ya, tidak heran jika Dini acap menghapus berbagai instagram story yang aku buat. Dan alasannya bisa kuterima dan logis. Aku perlu banyak belajar. Barangkali, ketidakpedulianku terhadap hal-hal kecil merupakan hal buruk dan mempengaruhiku dalam berbagai rupa kondisi dan situasi.

Ya, saya belajar dari situ. Dan saya ingin mulai rajin mendokumentasikan hal-hal kecil tentang kita. Kelak, suatu saat nanti, arsip itu akan menjadi kenangan yang begitu berharga. Arsip akan merawat ingatan kita. Dan tentu saja, menolak lupa.

Dan saya punya cara saya sendiri.

Minggu, 11 Februari 2024

--

--

Abdul Manan
Abdul Manan

No responses yet