Mengenal Sedikit Pemikiran Karl Marx

Abdul Manan
6 min readMay 8, 2022

--

Sebuah Resensi

Judul buku: Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme; Penulis: Franz Magnis-Suseno; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama; Tahun terbit: 2016 (Cetakan kesepuluh); Jumlah halaman: xvi + 292.

Siapa yang tidak mengenal Karl Marx? Di dalam studi ilmu sosial dan humaniora, Marx adalah salah satu pemikir yang paling berpengaruh terhadap perkembangan filsafat. Pasalnya, Marx yang hidup pada abad ke-19 itu mengubah cara pandang filsafat dalam upaya melihat dunia. Menurut Marx, filsafat tidak berangkat dari dunia ide kemudian menafsirkan realitas dengan ide tersebut. Filsafat berangkat dari realitas yang terjadi di dalam masyarakat lalu diabstraksikan ke dalam sebuah konsep. Inilah yang disebut materialisme, aliran filsafat Marx. Berangkat dari pengandaian iniah Marx berfilsafat dan menulis banyak karangan. Orang mengenal magnum opusnya yang paling masyhur: Das Kapital Volume 1–3.

Buku setelah 200-an halaman lebih karya guru besar STF Driyarkara ini memberikan penjelasan secara runtut dan ringkas pokok-pokok pikiran Karl Marx. Bab-bab dalam buku ini menjelaskan sedikit biografi Marx. Buku ini diwarnai dengan pergolakan pemikiran Marx yang begitu mengagumi dialektika Hegel saat muda dan mengkritiknya saat menjelang tua. Lebih lanjut, buku ini juga memberikan kritik-kritik yang berkembang setelah Marx meninggal hingga melahirkan berbagai corak aliran seperti, anarkisme, sindikalisme, dan neomarxisme. Marx tentunya dipengaruhi oleh beragam pemikiran yang hidup dan keadaan masyarakat di lingkungan tempat hidup Marx. Oleh karena itu, di dalam buku ini juga terdapat penjelasan mengenai perkembangan pemikiran sosialisme yang mempengaruhi pemikiran Marx hingga melahirkan Marxisme, sebuah metode dan ideologi pergerakan.

Ketika orang-orang mendengar kata ‘marxisme’ (terutama publik Indonesia), apa yang terbersit dalam benaknya kebanyakan adalah ‘komunis’. Lalu, dengan gamblamgnya, penolakan atas pandangan marxisme mengemuka dalam ruang publik. Tidak heran, publik Indonesia mempunyai pergolakan sejarah yang berkaitan dengan komunisme. Marxisme sebagai sebuah kajian masih terdengar tabu dan terkesan menyiratkan pelarangan. Kekhawatiran publik Indonesia akan kebangkitan Partai Komunis Indonesia sebagai manifestasi aliran marxisme dalam wujud ideologi pergerakan masih terpatri kuat meskipun dunia menunjukkan komunisme (murni) sebagai ideologi seuatu negara gagal dalam perkembangan umat manusia. Nahasnya, kecemasan itu masih dipelihara sehingga berimbas pada minimnya kajian marxisme di kampus dan ruang publik.

Hal itu tidak seratus persen salah dan tidak seratus persen benar. Marx berfilsafat bukan hanya untuk membaca dan menafsirkan dunia, melainkan juga mengubahnya. Lalu, bagaimana pandangan Marx tentang dunia? Oleh karena itu, marxisme sangat penting untuk dipahami, baik sebagai metode maupun sebagai ideologi pergerakan.

Kesalahpahaman orang dalam memandang marxisme mengakibatkan ketabuan yang terus dipelihara dan menimbulkan apatisme. Marxisme sebagai kajian dianggap menyimpang dengan Pancasila. Orang-orang yang mengkaji marxisme dianggap sebagai bagian dari upaya pembangkitan komunisme di Indonesia, pelawan pemerintah, perusuh, musuh negara, dan seterusnya. Padahal, marxisme mempunyai dimensi yang luas buat dikaji: ekonomi, politik, pergerakan, agama, filsafat.

Untuk memahami pemikiran Marx, titik awal yang harus dilihat adalah filsafat Marx sebagai metode. Cara pandang Marx akan dunia mempengaruhi segala pemikirannya. Oleh karena itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami filsafat Marx sebelum masuk pada kajian ekonomi-politik, gerakan sosial, dan sebagainya.

Marx melihat bahwa filsafat selama ini hanya berkubang dalam ranah idealisme. Ia hanya mencoba untuk membaca fenomena dunia melalui perenungan akal budi yang rasional. Filsafat tidak bersifat praksis. Namun, semangat zaman modern tidak demikian. Rasionalisme dan empirisme menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan pada masa itu. Marx merupakan seorang filsuf yang hidup di zaman modern. Empirisme mengandaikan bahwa sumber ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi, sesuatu yang nyata dan berwujud.

Oleh karena itu, Marx membalikkan filsafat Hegel yang terkenal akan idelismenya. Marx berangkat dari realitas sosial dalam memahami perkembangan sejarah umat manusia.

Franz mengutip Engels yang menulis, “(Marx menemukan) fakta sederhana yang sampai sekarang tertutup oleh tetumbuhan ideologis bahwa manusia pertama-tama harus makan, minum, bertempat tinggal, dan berpakaian, sebelum mereka melakukan kegiatan politik, ilmu pengetahuan, seni, agama, dan seterusnya; jadi, bahwa produksi nafkah material bersifat langsung dan dengan demikian, tingkat perkembangan ekonomis sebuah masyarakat atau zaman masing-masing menjadi dasar dari bentuk-bentuk kenegaraan, pandangan-pandangan hukum, seni, dan bahkan pandangan-pandangan religius orang-orang yang bersangkutan berkembang…”

Melalui pernyataan di atas, perkembangan sejarah umat manusia berjalan melalui faktor produksi. Hubungan dan interaksi manusia dalam upayanya memenuhi kebutuhan dasar disebut Marx dalam buku tersebut sebagai basis-struktur (produksi, alat produksi). Sedangkan perkembangan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan, politik, seni, agama, dan seterusnya disebut Marx sebagai supra-struktur. Melalui konep basis-struktur dan supra-struktur inilah Marx melihat bahwa perkembangan sejarah umat manusia ditentukan oleh perkembangan hubungan-hubungan sosial-produksi

Marxisme sebagai ideologi pergerakan berangkat dari upaya pencarian Marx terhadap ketidakadilan sosial pada zamannya. Marx mengkritik habis-habisan sistem kapitalisme sebagai hubungan sosial-produksi yang kala itu sedang begitu masif di Eropa. Marx berangkat dari pengamatannya terhadap pedesaan-pedesaan di Inggris yang mengalami pembengkakan populasi penduduk. Di sana, kemiskinan merajalela. Revolusi industri sebagai tonggak kemajuan ternyata tidak berkelindan dengan kesejahteraan sosial. Marx berusaha menjawab gap tersebut.

Kritik Marx atas kapitalisme tentu bukanlah suatu hal yang berangkat dari perenungan Marx pembacaaan teks-teks para pendahulunya saja. Marx bertitik tolak pada fenomena keterasingan manusia. Marx mencari sumber keterasingan manusia dalam kritik agama Feurbach, filsuf yang juga dikagumi Marx. Melalui pembacaannya atas filsafat Feurbach, awalnya Marx menganggap kalau agama lah yang menjadi sumber keterasingan manusia. Agama menenggelamkan manusia pada imaji akan kekuatan adikodatri yang tidka bisa diakses langsung secara material. Keterasingan yang disebabkan oleh agama membuat manusia larut dalam keadaannya. Mereka menerima keterasingan itu dengan asumsi keberadaan kehidupan sesudah mati.

Marx tidak sepenuhnya menyepakati pandangan itu. Baginya, agama hanyalah sumber sekunder keterangsingan manusia. Ada sumber keterasingan yang lebih mendasar dari agama. Melalui pengamatannya di pedesaan Inggris, Marx menemukan bahwa sumber keterasingan manusia adalah kerja. Marx berangkat dengan asumsi bahwa eksistensi manusia adalah kerja. Oleh karena itu, Marx menelusuri pada bagian mana kerja menjadi sumber keterasingan manusia.

Kritik Marx beralih dari kritik agama menjadi kritik masyarakat. Marx mengkritik bagaimana sistem kapitalisme menimbulkan ketidakadilan pada buruh sehingga menciptakan kelas-kelas sosial. Kritik Marx atas kapitalisme kemudian menjadi karya Marx yang masih dibaca dan digunakan sebagai alat analisis. Marx menilai bahwa kontradiksi internal di dalam kapitalisme akan menghancurkan sistem itu dengan sendirinya. Ketika kapitalisme sudah mencapai titik menuju kehancurannya dengan syarat-syarat sosial yang diperhitungkan oleh Marx, revolusi pun terjadi. Kelas proletariat lah yang akan menjadi motor penggerak revolusi. Kelas proletariat akan mengambil alih penguasaan atas alat-alat produksi. Begitu lah sosialisme ilmiah yang dimaksud oleh Marx.

Dengan pemahaman demikian, marxisme menjadi ideologi pergerakan buruh di semenanjung Eropa Barat — Eropa Timur. Marxisme menjadi ideologi pergerakan para buruh di berbagai negara seperti Rusia, Prancis, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya. Perwujudan ideologi yang paling nyata dari marxisme adalah komunisme. Komunisme mengandaikan masyarakat tanpa kelas di mana hak kepemilikan pribadi dihapuskan. Negara di mana buruh atau kelas proletariat berkuasa memiliki kendali penuh atas rakyatnya. Komunisme menjadi ‘hantu’ di Eropa. Ia mengancam eksistensi kaum borjuis. Revolusi pecah di beberapa tempat.

Namun, dalam perkembangannya, kapitalisme setelah melalui beragam masa revolusi malah jadi semakin mapan. Sosialisme ilmiah yang dikemukakan oleh Marx tidak serta merta meruntuhkan hubungan sosial-produksi tersebut. Marx dikritik. Kapitalisme tidak runtuh. Ia malah berkompromi. Marx tidak memperhitungkan bahwa kapitalisme justru berkembang dengan terus memberikan upaya-upaya penyejahteraan kepada kelas proletariat.

Selain itu, kapitalisme memperluas dirinya, baik dalam upaya perdagangan maupun perluaasan cakupan produksi ke seluruh dunia. Syarat-syarat ilmiah di mana kapitalisme runtuh (komoditas tak mampu dibeli oleh kelas proletariat sebagai konsumen) terus berjalan. Perluasan kapitalisme yang merambah pada negara-negara dunia ketiga disebut imperialisme. Melalui imperialisme, syarat ilmiah keruntuhan kapitalisme dapat tertunda. Di negara dunia ketiga, imperialisme mewujud dalam kolonialisme. Di sisi lain, ketika kapitalisme semakin mengglobal, beragam kritik atas pemikiran Marx dan perkembangannya melahirkan pergerakan revolusioner baru dengan membawa isu paling nyata yang dihadapi oleh manusia, gerakan lingkungan.

Demikian sekilas tentang pemikiran Marx yang sangat ‘sekilas’. Buku ini disajikan dengan bahasa yang sederhana dan cukup mudah dipahami. Buku ini juga menyertakan sumber primer dari tulisan Marx mengenai konsep-konsep dasar filsafat Marx: materialisme dialektis, materialisme historis, kapitalisme, sosialisme, dan seterusnya. Buku singkat ini merupakan seri pertama tulisan Franz Magnis Suseno dalam tiga seri bukunya yang mengulas perkembangan marxisme dan kritiknya.

Pemikiran Marx menarik untuk dikaji. Ia masih terus dipelajari. Memang, prosesnya memerlukan kesabaran. Pandangan Marx sangat luas mencakup berbagai bidang. Pandangan Marx memang masih banyak bolongnya, termasuk pemikirannya mengenai keruntuhan kapitalisme yang terkesan determinitif (diramalkan).

Tetapi, pada zaman kiwari ini, pemikiran Marx banyak dikaji untuk menjelaskan bagaimana kapitalisme menjadi motor utama penggerak krisis iklim dan kerusakan lingkungan.

Sekian dan terima kasih.

Tegal, 8 Mei 2022

--

--

Abdul Manan
Abdul Manan

No responses yet