Museum Situs Semedo: Sejarah Peradaban yang Tersembunyi
“Dari jalan-jalan ke hutan mencari kayu bakar hingga melipir ke sungai kemudian tak sengaja menemukan artefak alat batu, fosil ikan hiu, dan lutut gajah, semua ini (tentang situs semedo) dimulai,” jelas Sisworo, atau Kang Sis—begitu panggilan akrabnya. Beliau seorang kuli bangunan yang mengetahui seluk-beluk Situs Semedo, Kabupaten Tegal.
Tidak ada yang menyangka bahwa di Kabupaten Tegal terdapat situs peninggalan purbakala. Tempat itu berlokasi di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal. Berawal dari aktivitas pencarian kayu bakar di bukit dengan pepohonan jati Hutan Semedo, kerangka manusia purba, binatang darat hingga laut pun ditemukan. Museum Situs Semedo didirikan. Kehadirannya dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan terutama di bidang sejarah dan budaya.
Museum Situs Semedo hadir untuk memberi wadah sekaligus menjadi pusat terhimpunnya benda temuan yang ada di Semedo. Hal ini terlihat dari berbagai fosil yang masih berada di beberapa rumah warga desa Semedo. Salah satunya yaitu etalase di rumah Pak Dakri. Beliau mengatakan bahwa museum ini akan menjadi rumah bagi benda bernilai sejarah untuk ditempatkan dengan baik dan dapat diteliti lebih lanjut. Museum ini juga dibangun dengan konsep modern seperti penggunaan monitor digital yang dapat memberi informasi tentang asal mula kehidupan pada salah satu ruangannya.
“Di dalam museum ini juga terdapat ruangan yang memamerkan asal mula kehidupan—Big Bang—yang dikemas dengan monitor digital sehingga pengunjung bisa melihatnya melalui bentuk visual. Pengunjung tinggal menuliskan apa yang mau mereka cari pada kolom pencarian.” tutur Kang Sis.
Asal Muasal Museum Situs Semedo
Lingkungan sekitar Museum Situs Semedo berupa perbukitan bergelombang yang berbatasan dengan daratan aluvial Pantai Utara Tegal dan merupakan lahan terbuka yang saat ini difungsikan sebagai hutan jati milik Perhutani. Pada tahun 1987 seorang petani yang merangkap jadi seniman bernama Dakri menemukan fragmen tulang binatang vertebrata yang telah mengalami fosilisasi sehingga menjadi sekeras batu di dekat Sungai Julang. Dari yang dituturkan Kang Sis ada tim kecil berjumlah empat orang melakukan ekspedisi di daerah sekitar temuan tulang-belulang. Hingga pada tahun 2004, temuan yang telah terhimpun dikenalkan kepada masyarakat Kabupaten Tegal dan mendapat respon berupa pendampingan dari LSM Gerbang Mataram.
Pada tahun 2005, situs tersebut dikenalkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, kemudian juga kepada Balai Arkeologi Yogyakarta dan Museum Sangiran untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait fosil-fosil yang telah ditemukan. Sehingga pada tahun tersebut Situs Semedo ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.
Meskipun temuan pertama bukanlah fosil manusia purba, tetapi museum ini lebih mengedepankan penelitian mengenai keberadaan manusia purba. Menurut Kang Sis, temuan-temuan mengenai manusia purba menunjukkan siklus kehidupan evolusi manusia sejak dahulu sampai sekarang.
Kemudian, pada Januari 2011 di punggung Bukit Semedo telah ditemukan rangka manusia. Bagian rangka yang kali pertama terlihat yaitu bagian tulang lengan tangan. Penelitian lebih mendalam tentang manusia purba pun dilakukan.
Karena semakin banyak fosil yang ditemukan, maka pada tahun 2015 dimulailah pembangunan Museum Situs Semedo. “Selama proses pembangunan, masyarakat menunjukkan dukungan. Begitupun pemerintah. Lahan yang digunakan untuk bangunan museum berasal dari Pemda Kabupaten Tegal dan bahan material yang digunakan berasal dari Kementerian,” tutur Kang Sis.
Sudah lima tahun berlalu. Pembangunan sudah selesai. Tinggal penataan koleksi temuan dan beberapa hal teknis lainnya yang perlu untuk dipersiapkan. Setelah itu, museum akan segera diresmikan dan dibuka untuk umum. “Dahulu, sewaktu SMK pernah ke sini sebelum jadi museuam, yang ada hanya hamparan perbukitan dan pepohonan yang tidak terlalu lebat. Alhamdulillah sekarang museumnya sudah jadi,” ungkap Nur Anisa, warga asli Semedo yang sedang berswafoto di pelataran museum.
Museum Situs Semedo dan Bagiannya
Berjalan menuju Museum Situs Semedo, pengunjung akan menyaksikan arsitektur bangunan museum dengan beberapa hiasan patung. Ada replika Stegodon di arah timur, sang gajah purba di halaman museum dengan gading panjangnya. Melihat ke sisi barat, ada dua replika gading raksasa yang menjulang dengan ketinggian sekitar dua meter. Pada bagian dinding nampak jajaran gambaran evolusi manusia menurut teori Darwin. Sedang pada dinding yang menjorok ke depan terdapat replika dua dimensi manusia purba homo erectus.
“Ada tiga ruangan utama yang menyimpan koleksi penemuan fosil. Sebelum itu, pengunjung akan melewati ruang tunggu terlebih dahulu. Karena belum diresmikan, museum hanya boleh dikunjungi secara bergantian sepuluh orang,” jelas Adim, seorang satpam yang berjaga di depan gerban masuk museum semedo.
Di ruangan pertama, pengunjung dapat belajar tentang penciptaan alam semesta. Ada monitor yang siap menampilkan audiovisual kejadian Big Bang. Di sekelilingnya terdapat berbagai infografis zaman-zaman kehidupan. Pengunjung seperti dibawa masuk untuk berkelana tentang asal muasal kehidupan dari zaman arkaekum, paleozoikum, mesozoikum, neozoikum, plestosen, dan holosen. Semua itu ditampilan dalam bentuk infografis. Di bawah infografis yang terpampang di dinding, pengunjung akan melihat beberapa etalase yang menunjukkan benda temuan dari Situs Semedo berdasarkan zamannya. Seperti tengkorak yang menunjukkan kedatangan homo erectus di Nusantara. Selain itu, adanya pameran fosil binatang laut seperti penyu dan ikan hiu mengindikasikan bahwa lingkungan Situs Semedo sebelumnya merupakan lingkungan laut. Kondisi Pulau Jawa seperti ini terjadi pada 2,4–2 juta tahun yang lalu.
Memasuki ruangan kedua, pengunjung dapat menjumpai informasi mengenai persebaran homo erectus di Indonesia, tingkatan evolusi homo erectus, dan jejak-jejak peninggalan berupa fosil yang menunjukkan keberadaan manusia purba Semedo. Di ruangan ini, terdapat fosil ikonik yang menjadi kebanggan situs semedo. Stegodon (pygmy) Semedoensis: sebuah nama ilmiah untuk jenis gajah purba endemik berukuran babi hutan. Fosilnya terpajang rapi pada etalase yang disorot oleh cahaya di dalamnya. Di sebelahnya, terdapat fosil gigi kera raksasa purba yang juga menjadi kebannggaan bagi situs semedo. Dikutip dari Kompas.com (1/12/2014), kera raksasa purba atau Gigantopithecus yang dapat mencapai ukuran 3 meter dipercaya hanya tersebar di Tiongkok, Asia Selatan, dan wilayah Vietnam yang dekat dengan Tiongkok.
Akhirnya, pengunjung tiba pada ruangan ketiga. Dilihat dari benda-benda yang dipajang di ruangan ini, pengunjung akan mendapat informasi seputar budaya homo erectus di Semedo dan menikmatii diorama-diorama kehidupan antara 2,4 sampai 2 juta tahun yang lalu di Semedo. Dalam artikel Temuan Rangka Manusia di Situs Semedo karya Alifah, Balai Arkeologi Yogyakarta, sejauh ini telah ditemukan 114 buah alat-alat batu, yang dibuat dari jenis batu rijang (chert) batu gamping kersikan, umumnya berwarna cokelat kekuningan dan ada pula yang berbahan kalsedon. Alat-alat tersebut berupa alat-alat masif (misalnya kapak penetak) dan alat-alat non-masif (serpih dan serut).
Hampir keseluruhan fosil yang ditemukan telah tertata rapi di museum dan sebagian kecil masih berada dalam etalase teras rumah Pak Dakri “Jumlah total temuan yang baru terdeteksi oleh Balai Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Yogyakarta ada 3.700 fosil, kebanyakan sudah masuk museum tinggal yang di rumah Pak Dakri,” tutur Kang Sis.
Selayang Pandang Aktivitas Sekitar Museum
Karena museum belum resmi dibuka, jadi belum ada kegiatan yang spesifik menjadi rutinan oleh pihak museum. Pengunjung hanya boleh berfoto pada pelataran museum saja dan tidak diizinkan masuk. Namun, dengan hadirnya Museum Situs Semedo, warga Semedo berinisiatif untuk membentuk Pasar Langgeng di pinggiran jalan depan museum. Pasar Langgeng hanya digelar setiap hari minggu seperti halnya Pasar Slumpring di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Berjalan-jalan di Pasar Langgeng, pengunjung akan menjumpai banyak ibu-ibu yang menjajakan jajanan tradisonal khas Tegal. Selain itu, pernak-pernik seperti cincin batu dan kalung berbentuk taring dapat dibawa pulang sebagai buah tangan.
“Setiap minggu pagi, ada banyak pedagang yang menjual makanan tradisional seperti nasi jagung, nasi ponggol, jajanan pasar, dan lain-lain,” ungkap Friska Tri, ibu dua anak yang sedang duduk-duduk menikmati nasi jagung bersama suami dan kedua anaknya.
Di Pasar Langgeng pula diadakan pentas seni dengan menghadirkan seniman dari berbagai daerah di Kabupaten Tegal secara bergantian. Lebih seringnya menampilkan pertunjukkan kuntulan dan kuda lumping. Begitupun pertunjukkan akustik yang turut mewarnai hiruk pikuk Pasar Langgeng.
Hadirnya Pasar Langgeng seusai pembangunan museum, agaknya dapat membantu perekonomian warga Semedo. Apalagi di situasi pandemi ini dengan segala tetek bengeknya semua orang yang terdampak. Seorang pendamping Desa Semedo, Sri Hono Winarto berkata bahwa dengan atau tanpa pandemi Pasar Langgeng akan terus beroperasi. Meskipun Kabupaten Tegal berada dalam zona kuning dengan risiko penyebaran virus yang rendah, protokol kesehatan tetap lebih diutamakan.
Museum Situs Semedo tentunya membuka lebih dalam lagi tentang fakta-fakta kehidupan yang dapat memperkaya khazanah pengetahuan-sejarah manusia. Belum tahu pasti kapan waktunya, museum situs semedo akan segera diresmikan. “Harapan saya sih kerja saya lancar dan mungkin bisa menemukan peninggalan unik—yang menarik—di situs ini, itu saja,” ungkap Kang Sis mengakhiri perbincangan.