Tak Pernah Puas untuk Belajar: Catatan Kebodohan dan Upaya Mencari Kebenaran

Abdul Manan
4 min readFeb 24, 2021

--

Belajar itu wajib. Itu yang kuyakini dulu—tanpa pendalaman makna. Hanya slogan supaya rasa malas tak menjangkit padaku. Orang tuaku menanamkan semangat belajar. Membaca, membaca, membaca! Belajar apapun, belajar di manapun. Jangan lelah untuk melangkah. Jangan pernah puas untuk belajar.

Saat SMP segala waktu kucurahkan untuk meraih dan menggapai predikat yang disebut “kecerdasan". Alhasil aku berhasil menduduki peringkat 4 dari ratusan orang di sekolah itu. Namun, imbasnya aku merasa kurang bersosial. Ada penyesalan yang muncul.

Baru ketika SMA aku berkspresi dengan mengikuti banyak organisasi. Pramuka, jurnalistik, osis, organisasi luar, taman baca, dan sebagainya. Aku berusaha mengimbangi antara keeajibanku sebagai siswa SMA dan mengemban amanah dalam organisasi. Dan nyatanya semua tak selalu seperti yang diharapkan. Pada akhirnya, aku tetap merasa ada yang kurang dan selalu mengganjal sejak dalam pikiran. Kelak, pertanyaan-pertanyaan yang muncul atas keresahanku terhadap lingkungan sekitar menjadi intens untuk kukaji lebih lanjut.

Aku mempertanyakan orientasi dari organisasi di sekolah yang penuh dengan konflik batin. Kemunafikan dan persaingan psikis. Kompetisi begitu kentara sedang slogan sekolah menggaungkan kolaborasi. Begitupun dengan organisasi bernama OSIS dan MPK yang tak pernah selesai dengan masalahnya. Tugas dan wewenangnya sebagai organisasi intra gagal dipahami oleh anggota sampai petingginya—lebih jauh pendahulunya.

Aku mempertanyakan seorang guru yang loyal dan jenius tapi tidak empati terhadap muridnya. Ketidakempatiannya aku nilai berdasarkan dua tahun dalam ampuannya atas mata pelajaran Fisika—mata pelajaran yang cukup kusukai. Hormatku setinggi-tingginya atas kedalaman bidang keilmuannya. Namun, tidak dengan perlakuannya terhadap murid satu dengan yang lainnya.

Suatu ketika, dalam satu kelas hanya ada satu orang yang bisa menjawab sesoal turunan rumus dan kesetimbangan suatu benda. Kami sekelas hanya terdiam melihat satu orang murid dengan guru yang bercakap. Yang lain tak paham. Namun, kami semua malah ditegur. Dan berdalih: tidak memperhatikan, tidak membaca, dan lain-lain. Dua tahun kemudian, hal itu terulang pula dalam ujian praktik. Dari 150-an orang yang terbagi dalam lima kelas belajar, hanya satu orang yang bisa dengan tepat (menurut teori). Yang lain mangkir. Semua gagal dan diganti dengan tugas mengisi tiga botol minuman ukuran 1 liter dengan sampah plastik — entah untuk apa dan bagaimana nasibnya sekarang.

Hal lain adalah soal guru sejarah yang tiap pertemuan hanya membahas sejarah keluarganya. Entah ini sebuah tuduhan atau memang faktanya begitu, namun aku lebih baik menyebutnya sebagai dugaan. Pasalnya, banyak yang bercerita demikian dan memberikan pembenaran. Terlepas dari bagaimana seharusnya sejarah diajarkan di dalam sekolah, menurut penilaianku, tugasnya sebagai pendidik dan tlatahnya sebagai guru—kita memahaminya sebagai figur yang harus digugu dan ditiru—gagal. Tak ada empati sedikitpun. Pemahaman tak dapat. Hanya tekanan yang merajalela. Kelak, aku mengenalnya sebagai guru killer, entah killer karena wataknya atau pelampiasan atas kedangkalan keilmuannya.

Beberapa contoh di atas adalah sebagian yang sangat kecil dari realitas yang kuhadapi—barangkali Anda juga alami selama bersekolah, terutama kita yang satu almamater. Maksudku, alih-alih merefelksi diri atas tindakannya mereka malah membuat kekonyolan yang semakin masif. Para pegiat organisasi saya kira hanya menghambakan diri menjadi budk popularitas—entah yang sekarang. Begitupun dengan ketidakempatian yang ditunjukkan oleh para pendidik terhadap muridnya. Alih-alih merefleksi diri atas pendekatan dan perlakuan yang dilakukan dengan muridnya, mereka malah menghukum atau mencap “bodoh" muridnya.

Yang ingin kukatakan adalah bahwa begitu tak berdayanya keresahan itu disampaikan kepada yang seharusnya mendengarkan — bahkan sampai sekarang. Aku pernah tergabung dalam kelompok kecil dengan sebutan SSA squad—lupa aku dengan kepanjangannya. Di dalamnya adalah beberapa anak yang menjabat sebagai ketua di dalam organisasi ekstra di sekolah. Beberapa kali kami menyinggung keresahan atas sekolah, lebih jauh soal pendidikan di Indonesia — di mana sekarang aku mendapat pembenaran dan literatur banyak atas keresahan itu. Namun, kelompok itu berulang kali hanya membahas seputar harta, takhta, dan wanita. Huru-hara konflik antar ekstra yang pernah begitu gencarnya. Setidaknya keberanian untuk membuka pembahasan atas keresahan di sekolah menjadi kemenangan kecil yang patut disyukuri daripada hanya diam dan apatis menyaksikan ketimpangan yang mana kita dipaksa untuk menerimanya.

Dan di dalam perkuliahan — jauh dalam perantauan, aku menemukan beberapa jawaban dan verifikasi atas keresahan dan dugaan-dugaan yang kualami di sekolah. Secara singkat, guru fisika yang tidak empati terhadap muridnya dan guru sejarah yang ngelantur membahas keluarganya harus dilihat sebagai persoalan sistem. Bukan hanya pada individual. Sekolah sebagai sebuah sistem cenderung mengekang kebebasan baik kepada guru maupun siswanya.

Hal ini bahkan terwujud dari penyamaan seragam, penyamaan kelas, pemeringkatan yang tidak ada faedahnya. Saya yakin semua pendidik juga tahu bahwa tidak semua siswa dapat menguasai seluruh mata pelajaran. Hal itu juga terbukti dari pendidik yang hanya mengajar dan mampu mendalami satu mata pelajaran yang diajarkan. Yang lain hanya sebatas permukaan. Lalu apa yang membuatnya hanya pembahasan sembunyi tangan?

Banyak yang sudah membahas tentang kritik terhadap praktik pendidikan di Indonesia. Aku lebih menyarankan kalian untuk membacanya, seperti Sekolah Itu Candu karya Roem, Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Eko Prasetya, Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Fleire dan masih banyak lagi.

Hal lain yang ingin saya katakan adalah bahwa keresahan-keresahan ini sudah saatnya mulai dimunculkan dari dalam diri antara siswa-guru-pemangku kebijakan-sistem pendidikan dalam bentuk kritik baik secara lisan maupun tulisan. Literasi bukan hanya sebatas membaca dan menyampaikan isinya. Tetapi, juga dialog dua arah dan saling bantai argumen terhadap pemahaman atas apa yang telah dibacanya. Dan implementasi dari literasi bisa dilakukan di ruang-ruang kelas atau rapat-rapat tertentu baik rapat pleno atau rapat lainnya. Berani menyampaikan kritik adalah satu langkah menuju kemajuan. Kalau tidak mau, apa sebaiknya sekolah dibubarkan saja?

--

--

Abdul Manan
Abdul Manan

No responses yet